hatiku yang patah..

Lalu kemudian
Musim panas, musim dingin, musim gugur,
dan musim semi sudah beberapa kali berganti.
Aku tak menghitung sudah berapa kali purnama berlalu, 
sejak kau ucap salam pisah.
Aku masih tetap berada di kisah yang enggan basi.
Aku masih memunguti segala rindu rindu yang masih beterbangan di ruang kepala.
Aku masih menyeka lembut kedua bola mata ku,
saat isak tangis ku yang ku tahan di pelupuk mataku, agar wajah ku tetap terlihat ceria.
Masih jelas ku ingat kala itu
Kita belum jua sampe ke tujuan mendaki gunung berdua, 
Namun kamu sudah mengingkari janji yang kita ikat di sepertiga malam. 
Kita sudah pernah berbisik terlalu jujur pada langit yang bertaburan beribu ribu bintang. 
Rembulan kali itu tak ingin ketinggalan,
ikut mengambil peran sebagai saksi yang paling romantis.
Kita sama sama meneriakkan pada pemilik alam dan semesta, 
Sekalipun jarak membentang aku dan kamu akan tetap satu genggaman.
Namun di tengah perjuangan kau melepaskan genggaman tangan ku.
Kau mengingkari ikatan kita secara nyata. 
Apa yang membuat mu berubah secepat ini ?sampai kau melupakan segala janji yang pernah kita iklar kan.
Aku begitu susah melangkah kan kaki ku kala itu. 
Pandangan mata begitu gelap, 
Apa yang sedang terjadi? 
Inikah akhir kisah yang ku susun begitu rapi. 
Lambat laun ku langkah kan kaki ku perlahan-lahan, 
sembari memunguti rindu rindu yang sengaja kau serakkan dengan begitu kejam
Ku pandangi tubuh mu yang semakin jauh pergi di sore itu .
Sore kali itu tidak di sugukan senja ,
hujan berhasil menutupi nya. 
Kau sama sekali tak mencoba membalikkan tubuh mu ke arah ku.
Aku mendengar bunyi langkah kaki mu yang semakin jauh.
Kau sama sekali tidak perduli sedikit pun ,
tentang apa apa yang menyesakkan dada ku kala itu.
Aku jatuh tersungkur.
Tawa tawa kita saat berlarian,
Sambil bergenggaman tangan ,semakin mengiang ngiang di ruang kepala ,
masih terdengar dengan jelas.. 
Peluk mu tidak lagi ada untuk menghangatkan aku, 
Peluk mu tidak lagi menjadi penenang ,
saat kita bertengkar hebat hanya karna masalah sepele. 
Hujan semakin deras menyentuh kulit ku. 
Angin semakin kencang.
Kedinginan dan deras nya hujan berhasil mencumbui sekujur tubuh ku.. 
Tubuh ku bergetar, merintih tak karuan.
Tangis ku semakin meronta ronta di bawah guyuran hujan.
Dingin nya sampai ke ubun ubun ,dan menyusup ke dalam tulang rusuk ku. 
Aku terus melangkah walau sebenar nya kaki ku tak sanggup menopang luka, yang tepat berada di jantung hati ku.
Aku jatuh terpuruk, 
Aku memejamkan mataku, 
dan berlutut di bawah guyuran hujan,
dan angin yang begitu kencang . 
Sambil menatap langit yang sangat hitam.
Aku bisikkan sebuah kata pada pencipta langit dan bumi. 
"Berkali-kali engkau menguji ku Tuhan, 
namun akan berkali kali lipat aku akan lebih kuat dari ini"
ku susuri lorong lorong yang sunyi di gelap nya malam yang pekat.
Ku tutup  mataku ,dan ku geleng-geleng kan kepala sembari ku tampung hujan dengan wajah ku.
Berharap mata sembab ku sedikit tersenyum.
Hujan seakan-akan ingin sekali menyirami bekas bibir mu di kening ku. 
Curam nya air seakan ingin menyembunyikan,bekas bibir mu yang masih melekat di kening ku saat kau mengecupnya di malam malam yang sangat dingin kala itu.
Aku meratap sayu.
Pada siapa lagi ku titip kan  hati ini? 
Sementara kau  lah satu satu nya doa yang selalu ku semogakan.
Kau adalah salah satu bukti baik nya Tuhan padaku.
Kau satu satu nya yang tak pernah kuragukan.
Kau lah rumah yang ingin ku tuju untuk pulang. 
Kala itu, 
Sekedar membayangkan kita berpisah aku tak berani sama sekali.
Namun ini nyata
Hatiku patah.
Aku berdiri di bawah langit yang sama persis saat kita mulai jatuh cinta dulu.
Langit hitam yang pekat,
menjadi saksi saat kau genggam erat jemari ku sambil mengikat janji.
Namun pada kenyataannya ingkar mu terasa pahit, menyusup sampai ke  jantung ku yang paling inti.
Pahit nya ingkar mu sampai tidak sanggup ku telan lagi.
Namun semua itu tak bisa menenggelamkan rasaku.
Aku masih saja dengan keras kepala nya mencintaimu.
Di dalam segala musim.
Sekalipun waktu dan keadaan tak berpihak lagi.
Tak terasa ya... 
Sudah 4 tahun lama nya saat kau ucap salam pisah.
Namun belum juga ku temukan pengganti mu
Genggaman mu masih membekas di jemari ku, 
Peluk mu masih terasa hangat kurasa, 
Bekas bibir mu di kening ku masih belum terganti.
Saat aku terbangun di pagi hari, masih sering senyum mu muncul bersama mentari pagi.
Aku masih menemukan bayang mu,saat matahari mulai tenggelam di senja yang indah.
Dan di saat rinai hujan ,tawa mu masih beterbangan di ruang kepala.
Saat aku berjalan di lorong yang sepi, aku masih mendengar suara mu .
Gelap nya malam yang pekat , bulan, bintang dan segala yang pernah kita lalui 
Aku masih saja merindui mu dengan keras kepala.
Bagaimana aku bisa menghentikan bunga cinta,
yang masih bermekaran di ruang hati yang paling dalam.
 Walau dalam kenyataan,
kau hanyalah sejarah dalam kisah yang sengaja ku tolak agar tak terlihat basi.
Lalu kemudian aku semakin menyadari.
Pernah begitu dalam mencintai mu aku tak pernah menyesali nya. 
Meskipun kini musim, ruang, waktu dan keadaan tak lagi memihak. 
Aku masih mengindahkan doa harapan.
Aku masih memeluk nama mu ,
dalam bait doaku ,
yang selalu ku diskusikan dengan pencipta langit dan bumi. 
Rasa aku tak pernah meminta mu datang, 
Namun saat rasa cinta di dadaku sudah nyata,
aku juga tak ingin kau pergi.
Aku meneriakkan pada langit 
Siapa? 
Siapa yang harus ku tuntut mempertanggung jawabkan, 
perihal rasa cinta ini di mulai dan di akhiri . 



Nb. Nyatanya melupakan seseorang yang berada
      tepat di bagian jantung yang paling inti. 
     Tidak segampang ucapan lidah 
      Payah dalam tindakan secara nyata. 
      


Komentar